Sejarah Kerajaan Andalusia : Perkembangan, Keruntuhan dan Peninggalan

Diposting pada

Sejarah Kerajaan Andalusia

Tahukah anda tentang Sejarah Kerajaan Andalusia? Daerah Iberia yang menjadi bagian dari kerajaan Hispania berhasil ditaklukan oleh Raja Roderick yang mana dia adalah seorang umat Kristen dari Visigoth.

Sejarah Kerajaan Andalusia : Perkembangan, Keruntuhan dan Peninggalan
Sejarah Kerajaan Andalusia : Perkembangan, Keruntuhan dan Peninggalan

Kemudian, umat Islam datang pada tahun 711 Masehi dengan membawa pasukannya bernama Umayyah dimana sebagian besar adalah bangsa Moor dari Afrika Barat Laut.

Pasukan Umayyah ini lalu menyerbu kerajaan Hispania yang dipimpin oleh Jenderal Tariq bin Ziyad. Mereka tidak lain dibawah perintah kekhalifahan Umayyah di Damaskus.

Kedatangan pasukan ini melewati lautan yang memisahkan antara negara Maroko dan daratan Spanyol. Tepatnya pada 30 April, barulah pasukan Umayyah berhasil mendarat di daerah Gibraltar dan melanjutkan perjalanan menuju ke utara.

Setelah pasukan Umayyah berhasil mengalahkan Raja Roderick dari Visigoth pada tahun yang sama yaitu 711 M dengan sebuah pertempuran bernama Pertempuran Guadalete.

Kekalahan inilah yang membuat kekuasaan Islam terus berkembang hingga pada tahun 719 M. Namun, hanya tiga daerah ini yaitu Galicia, Basque dan Asturias yang tidak mau tunduk kepada kekuasaan Islam.

Setelah itu berhasil menguasai Hispania dan sekitarnya, pasukan Umayyah kemudian melewati daerah Pirenia untuk kemudian menaklukkan negara Perancis. Namun, upaya ini dapat dihentikan oleh bangsa Frank dalam sebuah pertempuran hebat pada tahun 732 M dengan nama pertempuran Tours.

Kemudian dari sinilah nama Andalusia muncul sebagai provinsi Al-Andalus atau daerah yang berhasil dikuasai oleh Muslim Umayyah yang terdiri dari Spanyol, Portugal dan Perancis bagian selatan.

Kekuasaan ini terus meluas dan berlanjut pada kurun waktu lebih dari 700 tahun. Hingga pada tahun 900 Masehi Islam berhasil mencapai puncak kejayaan dan meninggalkan jejak sejarah kerajaan Andalusia.

Kini, hampir lebih dari 5 juta umat Muslim mendiami Andalusia. Sedangkan Dinasti Ummayh II menjadi penguasa tunggal daerah ini dan menjadi satu-satunya kerajaan paling maju, terutama dalam bidang sosial di daratan Eropa.

Perkembangan Politik Kerajaan Andalusia

Setelah kerajaan Andalusia berhasil dibebaskan. Pemerintahan Islam pun terjadi pergantian dan menuju hingga masa kejayaan, puncak kejayaan hingga keruntuhan. Berikut ini adalah periode Pemerintahan Islam di kerajaan Andalusia:

Periode Kekuasaan Bani Umayyah Damaskus Pada Tahun (711-755 M)

Di masa ini Spanyol masih dikuasai oleh pemerintahan para wali yang diangkat oleh Khalifah Bani Umayyah dan berpusat di daerah Damskus.

Kemudian, pada masa ini juga negara Spanyol dalam bidang politik masih belum stabil atau belum sempurna. Masih terdapat banyak guncangan-guncangan dimana faktornya berasal dari intern maupun ekstern.

Faktor gangguan dari dalam misalnya perselisihan di antara elite penguasa, terutama masalah perbedaan etnis dan golongan.

Periode Kerajaan Cordoba Pada Tahun (756-1013 M)

Kekuasaan Khalifah Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus pada tahun 750 M, kemudian berganti dengan kekuasaan Bani Abbasiyah yang berpusat di Baghdad. Kekuasaan Khalifah ini digantikan oleh seseorang bernama Abdurrahman Ad-Dakhil.

Dia juga merupakan keturunan Bani Umayyah yang selamat dan berhasil menurunkan Yusuf al-Fihri dan memproklamasikan dirinya sebagai Amir Kerajaan Andalusia yang berpusat di Cordoba.

Selain itu dirinya juga mengklaim bahwa pada tahun 756 Masehi telah melepaskan diri dari Kekhalifahan Abbasiyah.

Selain Amir, Kerajaan Cordoba secara bergantian dipimpin oleh orang-orang berikut yakni Abdurrahman I (756-788 M), Hisyam I (788-796 M), al-Hakam I (796-822 M), Abdurrahman II (822-852 M), Muhammad I (852-886 M), al-Munzhir (886-888 M), dan Abdullah ibn Muhammad (888-912 M).

Masa Kerajaan-Kerajaan Lokal

Runtuhnya kekhalifahan kerajaan Cordoba, disebabkan karena terjadi perang saudara diantara tahun 1009 dan 1013 M. Meskipun konon pada tahun 1031 M perang saudara ini diketahui belum berakhir.

Hal inilah yang pada akhirnya membuat Negara Andalusia terpecah belah menjadi 30 negara kecil. Kemudian negara ini dipimpin oleh pemerintahan raja-raja golongan atau Al-Mulukuth Thawaif yang berpusat di suatu kota, seperti Kerajaan Malaga, Zaragoza, Valencia, Badajoz, Sevilla, dan Toledo.

Masa Kekuasaan Dinasti Maroko

Walaupun terpecah belah menjadi beberapa negara kecil, tetapi terdapat satu kekuatan yang lebih dominan yaitu kekuasaan Dinasti Murabithun pada tahun (1086-1143 M) dan Dinasti Muwahhidun pada tahun (1146-1235 M).

Dinasti Murabithun ini diketahui merupakan sebuah gerakan agama di Afrika Utara dimana pendirinya adalah Yusuf ibn Tasyfin.

Kemudian, pada tahun 1602 Masehi, Yusuf ibn Tasyfin ini berhasil mendirikan sebuah kerajaan pusatnya berada di Marakesh, Maroko.

Yusuf ibn Tasyfin masuk ke daerah Spanyol berkat “undangan” para penguasa Islam di sana yang tengah memikul beban berat dalam mempertahankan seluruh negerinya dari serangan orang-orang Kristen.

Alhasil, Yusuf dan pasukannya berhasil menguasai Spanyol dan mengalahkan pasukan Castilia pada tahun 1086. Meskipun kemenanganya ini justru menimbulkan perpecahan di kalangan raja-raja Muslim. Hal ini justru ia manfaatkan untuk maju menguasai seluruh daerah Spanyol dan berhasil ditakuklan kembali.

Masa Kerajaan Granada

Umat Islam yang tersisa di Andalusia dan masih bertahan, kemudian bangkit dan membangun kerajaan Granada di bawah pimpinan Dinasti Bani Ahmar pada tahun (1232-1492 M).

Kemajuan peradaban pun kembali seperti di masa pemerintahan Abdurrahman an-Nasir. Termasuk berhasil dibangunnya Universitas Granada dan Istana Al-Hambra yang termasyhur itu, walaupun di tengah ancaman tentara musuh.

Meskipun dalam bidang politik, kerajaan ini hanya mampu menguasai wilayah yang kecil.

Keruntuhan Kerajaan Andalusia

Runtuhnya Andalusia diawali dari wilayah Granada dimana wilayah ini memiliki sejarah istana Al Hamra yang merupakan salah satu wilayah yang berada di Andalusia.

Namun, sayangnya, Granada dikelilingi oleh kerajaan-kerajaan Kristen yang tidak bersahabat. Bahkan mereka tidak pernah lepas dari ancaman penaklukan oleh kerajaan Kristen tersebut.

Hingga keruntuhan pun terjadi, dimulai saat Raja Ferdinand dari Aragon menikah dengan Putri Isabella dari Castile.

Dari pernikahan ini pun akhirnya berhasil membuat dua kerajaan paling kuat di semenanjung Iberia bersatu padu dalam satu visi dan misi guna menaklukkan Granada dan menghapus jejak-jejak Islam di benua biru itu.

Mulai dari umatnya, kitab sucinya hingga ke bangunan ibadah. Hingga pada tahun 1491, Granada berhasil dikepung oleh pasukan-pasukan Raja Ferdinand dan Ratu Isabella.

Lalu, pada tanggal 2 Januari 1942, pasukan Kristen memasuki Granada. Mereka berhasil memasuki istana Alhambara dan sebagai tanda kemenangan mereka pun memasang bendera-bendera sampai simbol kerajaan Kristen di Eropa di dinding istana.

Bahkan di menara tertinggi dari istana Alhmabra ini dipasangi salib agar rakyat Granada tahu siapa penguasa mereka sekarang ini.

Masa Kekhalifahan

Dalam sejarah kerajaan Andalusia, Spanyol yang berhasil dikuasai oleh Umat Islam pada masa khalifah Al-Walid Rahimahullah pada tahun (705-715 M) merupakan seorang khalifah dari Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus. Dimana pada masa ini umat Islam sebelumnya telah berhasil menguasai Afrika Utara.

Dalam perjalanan menguasai Spanyol ini terdapat tiga pahlawan Islam yang paling besar jasanya mereka adalah Tharif ibn Malik, Thariq ibn Ziyad, dan Musa ibn Nushair Rahimahullahumajma’in.

Keberhasilan umat Islam dalam memperluas wilayahnya ini juga dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor eksternal dan internal.

Faktor internal

Faktor internal kemenangan umat Islam dalam memperluas wilayah kekuasaannya karena para pemimpin dan prajurit Islam adalah tokoh-tokoh yang kuat, tabah, mahir atau cakap, berani, kompak dan bersatu padu serta memilki kepercayaan diri dalam menghadapi segala persoalan.

Memang tidak bisa dipungkiri, ajaran Islam yang ditunjukkan oleh para tentara Islam pada saat itu mereka mengutamakan sikap toleransi, persaudaraan, dan tolong-menolong.

Faktor Eksternal

Untuk faktor eksternal kemenangan umat Islam  ada beberapa hal antara lain:

  • Pada saat itu keadaan politik Spanyol tengah terpecah belah ke beberapa negara kecil. Kemudian munculnya penguasa Gothic yang bersikap tidak toleran kepada aliran agama Monofisit yang dianut oleh penguasa.
  • Penduduk Spanyol yang mayoritas beragama Yahudi dipaksa dibaptis sesuai agama Kristen dan bagi mereka yang menolak akan dikenai hukuman berupa penyiksaan hingga dibunuh secara keji.
  • Keadaan sosial di Spanyol pada saat itu menganut sistem kasta atau kelas, sehingga masyarakat hidup dalam kondisi yang diliputi kemelaratan atau kemiskinan, banyak rakyat yang tertindas, dan tidak adanya persamaan/ kesetaraan hak.
  • Dalam bidang ekonomi Spanyol mengalami keterpurukan, termasuk tingkat kesejahteraan masyarakat yang juga menurun.
  • Terjadinya konflik antara Roderick dengan Ratu Julian dimana dia merupakan mantan penguasa wilayah Septah. Kemudian, Ratu Julian ikut bergabung untuk mendukung kaum muslimin di Afrika Utara dan menyetujui agar umat Islam menguasai daerah Spanyol.
  • Roderick memindahkan ibukota dari Seville ke Toledo, sedangkan Witiza yang menguasai Toledo diberhentikan begitu saja. Ini yang menyebabkan kedua anak Witiza yaitu Oppas dan Achila marah. Kemudian mereka pun akhirnya mengumpulkan kekuatan untuk menjatuhkan Roderick dengan pergi ke Afrika Utara. Di sini mereka pada akhirnya ikut bergabung dengan para kaum muslimin. Sementara itu, pasukan Roderick yang terdiri dari beberapa budak yang tertindas. Hal ini menjadikan mereka sudah tidak lagi memiliki semangat perang yang membara.

Peninggalan Kerajaan Andalusia

Sejarah kerajaan Andalusia berhasil meninggalkan jejak sejarahnya dan berikut ini adalah beberapa peninggalan kerajaan Andalusia.

  1. Sebuah bangunan megah yang menjadi salah satu saksi sejarah yaitu Mezquita Catedral Cordoba yang berada di Kordoba. Bangunan ini sejatinya mempunyai cerita sejarah yang berbeda-beda. Sementara bagi umat Islam, bangunan megah itu merupakan sebuah masjid yang sekarang dialihfungsikan sebagai katedral. Berbeda dengan umat Kristen yang mengubah bangunan masjid tersebut menjadi gereja katedral.
  2. Bangunan Medinat al Zahra yang dibangun pada tahun 936 dan merupakan reruntuhan dari kerajaan Islam.
  3. Di Grenade ada sebuah benteng megah yang berada di kawasan istana. Bangunan ini dibangun pada masa kekaisaran Bani Umayyah. Yang tersisa adalah kemegahan istana yang dulu sempat dijuluki “paradise on earth“.
  4. Di Granada tepatnya di pegunungan Al Pujjara terdapat sebuah bangunan dengan hiasan seperti kaligrafi dan juga pernik kecil lainnya sebagai lambang atau simbol sejarah pada masa lalu.
  5. Kota Ronda terletak di pegunungan Sierra Ronda yang kental dengan aksen Moorish dan di tempat ini juga terdapat bangunan batu yang tua.

Nah demikianlah pembahasan yang bisa saya sampaikan mengenai Sejarah Kerajaan Andalusia : Perkembangan, Keruntuhan dan Peninggalan. Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *